Senin, 19 Maret 2012
Jumat, 10 Februari 2012
Diskusi Pra Penelitian
DISKUSI MAHASISWA JURUSAN TEKNOLOGI
PERTANIAN
FAKULTAS
PERTANIAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
Judul : Pengaruh Metode Pemberian Air pada SRI (System of Rice
Intensification) Terhadap Efisiensi Irigasi dan Produksi Tanaman Padi (Oriza sativa L.)
Pemrasaran :
Sartika / 05081006006
Pembimbing :
1. Dr. Ir. Edward Saleh, M.S
2. Ir. Rahmad Hari
Purnomo, M.Si
Hari/Tanggal : Senin / 9 Januari 2012
Waktu : 10.00 WIB - selesai
Tempat : Ruang Seminar/Diskusi Jurusan
Teknologi Pertanian
Fakultas Pertanian
Universitas Sriwijaya
I.
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Tanaman padi merupakan tanaman semusim yang termasuk
golongan rumput - rumputan. Tanaman padi
dapat dibedakan menjadi dua tipe yaitu
padi kering yang tumbuh pada
lahan kering dan padi sawah yang memerlukan air menggenang. Tanaman padi yang
paling banyak dibudidayakan di Indonesia
adalah padi sawah. Padi pada umumnya dibudidayakan dengan sistem pemberian air
penggenangan terus menerus. Tanaman diberi
air dan dibiarkan tergenang mulai beberapa hari setelah tanam hingga beberapa
hari menjelang panen. Penggenangan terus
menerus memiliki kelemahan yaitu memerlukan air dalam jumlah yang besar, hama dan penyakit tanaman
akan lebih mudah menyebabkan infeksi pada tanaman tersebut (Hidayat, 2001).
Padi pada umumnya memerlukan air pada keadaan
seimbang, yaitu keadaan pada saat air tersedia sama dengan kebutuhan tanaman. Kekurangan dan kelebihan air dapat mengganggu
proses metabolisme bahkan akan mematikan tanaman. Keseimbangan
pemberian air pada padi akan sangat menentukan tingkat pertumbuhan dan
produktivitas hasil (Astuti, 2010).
Pada pertanian modern terdapat sistem pemberian air
baru yang lebih dapat menghemat air dan mengurangi gulma yang ada pada lahan
pertanian. Pertanian padi modern organik yang mulai
dikembangkan adalah padi metode System
of Rice Intensification (SRI). System
of Rice Intensification (SRI) merupakan sistem budidaya tanaman padi yang
intensif dan efisien berbasis pada pengelolaan tanaman, biologi tanah, tata air
dan pemupukan secara terpadu untuk meningkatkan pertumbuhan sistem perakaran,
jumlah anakan, keragaman hayati (biodeservity) dan kekuatan biologis
tanah dalam mendukung peningkatan produktivitas padi. Konsep pemikiran SRI adalah pada dasarnya padi
bukan merupakan tanaman air, tetapi hanya membutuhkan air dalam jumlah tertentu. Irigasi hemat air pada budidaya padi dilakukan
dengan memberikan air irigasi secara terputus (intermittent) berdasarkan
periode pertumbuhan antara periode basah (genangan dangkal) dan kering. Cara
lain adalah dengan memberikan air yang sedikit yang cukup untuk melembabkan
tanah atau dikenal sebagai system macak-macak (Subagyono, 2001).
Ketiga metode di atas memiliki keunggulan dan
kelemahan masing-masing. Melalui penggenangan terus menerus padi akan selalu
terendam air sehingga kebutuhan air tanaman selalu terpenuhi dan pertumbuhan
gulma dapat diminimalkan. Tetapi
memiliki banyak kelemahan seperti yang disebut diatas. Selain itu
pemberian pupuk menjadi tidak efisien karena pupuk akan larut dalam air
atau tidak langsung ke tanah. Pemberian
air dengan sistem terputus memberikan keuntungan pada petani yaitu penggunaan
air yang sedikit dan dapat digunakan kembali untuk lahan lainnya. Sistem
pemberian air kondisi macak-macak yaitu lahan dalam kondisi macak-macak atau
kondisi melumpur pada saat penanaman bibit (Kalsim et.al, 2007). Secara berangsur-angsur lahan diairi setinggi 2-5 cm. Lahan tidak diairi sampai 5-6 hari atau
sampai permukaan tanah retak-retak selama 2 hari kemudian diairi kembali setinggi
5 – 10 cm. Mulai fase keluar bunga
sampai 10 hari sebelum panen, lahan terus digenangi air setinggi 5 cm, selanjutnya
lahan dikeringkan untuk mempercepat dan meratakan pemasakan gabah dan
memudahkan panen (Hendayana, 2011). Keuntungan dengan pengairan macak-macak adalah dapat
menghemat lebih dari 40% dibanding pengairan tergenang.
Untuk daerah-daerah yang penyediaan airnya terbatas,
pemberian air terputus-putus dan macak-macak dapat menghemat air sehingga
menjamin kestabilan penyediaan air untuk seluruh daerah. Untuk daerah yang penyediaan airnya cukup
banyak, kelebihan air akibat penggunaan yang hemat dapat digunakan untuk
perluasan areal atau penggunaan untuk industri. Selain itu kedua cara tersebut
dapat memperbaiki aerasi (kandungan udara) tanah sehingga menghindarkan tanaman
dari keracunan bakteri atau keracunan lain yang merugikan. Jika petani telah yakin penggunaan cara ini
tidak akan merugikan, maka cara ini juga akan mengurangi perselisihan petani
pada saat penyediaan air berkurang. Kedua
pengairan hemat air irigasi ini dapat menghambat pertumbuhan hama dan menyebabkan penggunaan pupuk menjadi
lebih efisien. Kelemahan kedua sistem ini adalah hanya dapat diterapkan pada
lahan yang telah memiliki jaringan irigasi dan pertumbuhan gulma lebih cepat
(Hilman, 2011).
Tanaman padi
dan kebutuhan air sangat berhubungan. Kebutuhan
air untuk pengolahan tanah sampai siap tanam (30 hari) mengkonsumsi air 20%
dari total kebutuhan air untuk padi sawah dan fase bunting sampai pengisian
bulir (15 hari) mengkonsumsi air sebanyak 35 %. Berdasar data tersebut sebetulnya sejak tanam
sampai memasuki fase bunting tidak membutuhkan air banyak, demikian pula
setelah pengisian bulir. Oleh sebab itu
pada saat 15 hari sebelum panen, padi
tidak roboh dan pemberian air perlu lagi dihentikan (Taufik, 2008).
Efisiensi
penggunaan air di petakan dapat dilakukan dengan mengairi sawah dalam keadaan terputus
atau macak-macak. Setelah tanaman padi
berumur 14 hari sampai periode bunting tidak memerlukan air yang banyak. Kebiasaan petani menggenangi sawahnya sampai 5
cm bahkan lebih karena petani tidak membayar air yang digunakan tersebut
sehingga cenderung boros dalam penggunaan air. Penerapan irigasi terputus dan macak-macak
sampai periode bunting menyebabkan air dapat dihemat (Taufik, 2008).
Efisiensi
penggunaan air di petak sawah di Indonesia selama ini dilakukan dengan
mengelola pasokan air yang ada dengan membagi beberapa daerah irigasi menjadi
beberapa golongan dan menentukan pola tanam. Selain itu juga dengan menggilirkan pemberian
air. Secara teoritis, pemberian air pada
petak sawah dengan sistem macak-macak dan terputus dapat mengefisienkan
penggunaan air, terutama pada saat kekurangan air (Sumaryanto, 2006).
Sistem irigasi
penggenangan terus-menerus pada padi sawah menyebabkan banyak air yang
terbuang. Sistem irigasi dengan menjaga
air tetap macak-macak atau diberikan secara terputus bahkan terkadang kering
dapat meningkatkan efisiensi penggunaan air (Shastry et al., 2000). Efisiensi penggunaan air pada budidaya padi
sawah dengan kondisi tidak tergenang sebesar 19.581%, sedangkan pada pengairan
penggenangan terus-menerus efisiensinya sebesar 10.907% (Sumardi et al., 2007).
Oleh sebab
itu, perlu adanya penelitian mengenai metode pemberian irigasi terhadap efisiensi
irigasi dan produktivitas hasil gabah menggunakan ketiga metode tersebut. Melalui ketiga metode tersebut akan diperoleh
sistem pemberian air yang paling efisien bagi padi dan memaksimalkan
produktivitas padi.
B.
Tujuan
Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui metode pemberian air paling baik dalam kaitan
dengan efisiensi penggunaan air dan produksi tanaman padi.
C.
Hipotesis
Diduga
metode pemberian air berpengaruh terhadap efisiensi penggunaan air dan produksi
tanaman padi.
II.
PELAKSANAAN
PENELITIAN
A.
Tempat
dan Waktu
Penelitian ini akan dilaksanakan di Lahan Pertanian desa
Karang Sari Kecamatan Belitang III
Daerah Irigasi Komering. Waktu
pelaksanaan penelitian dilakukan pada bulan Januari 2012 sampai dengan selesai.
B.
Bahan
dan Alat
Bahan yang digunakan
pada penelitian ini adalah: 1) Bibit padi, 2) Pupuk organik, 3) Pestisida
organik, 4) Air, dan 5) Kertas Milimeter.
Alat yang digunakan
adalah: 1) Pintu air, 2) Parang, 3) Alat
penyemprot, dan 4) Pipa paralon.
C.
Metode
Penelitian
Penelitian
ini menggunakan metode deskriptif dengan pengamatan langsung dan hasil yang
diperoleh akan dianalisis dan disajikan dengan menggunakan tabulasi dan grafik.
Dengan perlakuan:
1.
Tergenang
2.
Terputus-putus
3.
Macak-macak
D.
Cara
Kerja
1. Penyemaian
benih padi varietas Ciliwung.
Pada metode SRI digunakan teknik khusus
yaitu benih diseleksi menggunakan larutan garam. Air dimasukkan ke dalam toples
dan dimasukkan sebuah telur, kemudian dimasukkan garam perlahan-lahan dan
diaduk hingga telur mengapung (sebagai penanda larutan siap digunakan).
Kemudian dimasukkan benih yang akan ditanam ke dalam larutan garam tersebut.
Benih yang tenggelam adalah benih berkualitas baik. Benih yang baik diambil,
disisihkan dan dibersihkan dengan air hingga larutan garam tidak menempel.
Selanjutnya benih diperam selama 1 hari 1 malam dan benih siap untuk dsemaikan.
Pada metode SRI persemaian bisa
dilakukan menggunakan wadah dengan kebutuhan benih yang sedikit yaitu antara
5-10 kg/ha.
2. Penyiapan
petak percobaan dan pintu air sederhana.
Petak sawah berukuran 10x7 m dibagi
menjadi 3 petak yang dipisahkan oleh gundukan tanah sehingga setiap petak
berukuran 10x2 m. Masing-masing petak memiliki pintu untuk sarana irigasi dan
drainase di pangkal dan ujungnya. Pintu
terbuat dari papan berukuran 1x0,8 m
dengan tebal 2 cm.
3. Pembuatan
saluran ke petak percobaan.
Saluran kuarter dihubungkan dengan lahan
pertanian sehingga irigasi dapat masuk dan mengairi lahan.
4. Pengolahan
tanah.
Pengolahan lahan untuk pertanian
konvensional dan pertanian dengan metode SRI hampir sama, yaitu menggunakan
tenaga manusia, hewan atau traktor dengan urutan tanah dibajak, digaru dan
diratakan. Perbedaanya adalah pada metode SRI
disebarkan pupuk organik pada
saat digaru.
5. Fase
penggenangan dengan kondisi macak-macak untuk seluruh areal petak.
Ketiga petak percobaan sebelum ditanam
digenangi selama 1-2 hari setinggi 2 cm.
selanjutnya, petak dibuat mal jarak tanam berukuran 35 x 35 cm.
6. Pemindahan
bibit tanaman padi.
Pada metode SRI bibit diangkat (tidak
dicabut) bersama tanah yang melekat pada akar
dan langsung ditanam di sawah (kurang dari 30 menit). Benih ditanam
setelah brumur 7-12 hari dengan kedalaman 2-3 cm dengan bentuk perakaran
horizontal berbentuk huruf L dan tiap lobang berisi 1 bibit.
7. Membuat
perlakuan petak masing-masing tergenang, putus-putus, dan macak-macak.
a. Tergenang
Petak sawah diairi terus menerus dan
dibiarkan tergenang setinggi 5-7 cm setelah penanaman sampai fase
pembungaan.
b.
Terputus-putus
Air
di areal tanam diatur pada kondisi tergenang dan kering secara bergantian dalam
periode tertentu. Metode ini dipraktekkan mulai tanam sampai satu minggu
sebelum tanaman berbunga. Sawah baru diairi apabila kedalaman muka air tanah
mencapai + 15 cm, diukur dari permukaan tanah. Hal ini dapat diketahui dengan
bantuan alat sederhana dari paralon belubang yang dibenamkan ke dalam tanah.
Penggenangan air paling baik dilakukan pada sore hari sehingga air yang berada
di permukaan mulai mengering keesokan harinya. Sisa air yang ada di sawah
dikeluarkan.
c.
Macak-Macak
Sistem
pemberian air kondisi macak-macak yaitu lahan dalam kondisi melumpur pada saat
penanaman bibit. Secara berangsur-angsur lahan diairi setinggi 2-5 cm. Lahan tidak diairi sampai 5-6 hari atau
sampai permukaan tanah retak-retak selama 2 hari kemudian diairi kembali
setinggi 5 – 10 cm. Mulai fase keluar bunga sampai 10 hari sebelum panen, lahan
terus digenangi air setinggi 2 cm dan selanjutnya dikeringkan untuk mempercepat
dan meratakan pemasakan gabah dan memudahkan panen.
8. Proses
budidaya padi :
a. Pemberian
pupuk dasar berupa pupuk organik.
b. Perawatan
dilakukan penyiangan gulma dengan manual menggunakan tenaga manusia dan
mengontrol tinggi muka air ketiga petak percobaan.
c. Pemberantasan
hama dan penyakit menggunakan pestisida organik langsung ke tanaman.
9. Pengamatan
:
a. Tinggi
air yang diberikan,
b. Perkolasi,
evaporasi, transpirasi,
c. Jumlah
anakan/tanaman,
d. Berat
kering berangkasan,
e. Berat
gabah kering panen/luas.
E.
Parameter
yang Diamati
Parameter
yang diamati dalam penelitian ini adalah: 1) tinggi muka air, 2) tingkat
evapotranspirasi, 3) tingkat perkolasi, 4) jumlah malai per tanaman, 5) tinggi
tanaman, 6) jumlah anakan, 6) berat gabah panen kering, dan 7) jumlah air
irigasi.
Rabu, 19 Oktober 2011
pengaruh yahudi terhadap ekonomi indonesia
“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari karuniaNya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” [At Taubah 28]
Saat itu perekonomian kota Mekkah dipegang oleh orang2 kafir. Namun Allah memerintahkan Nabi agar mengusir orang2 kafir dari Mekkah.. Ummat Islam takut bahwa perekonomian terganggu dan mereka jadi miskin. Karena itu turun ayat tsb.
Saat ekonomi dikuasai orang kafir, mereka justru memiskinkan kita. Segala kekayaan alam kita dirampas sehingga meski negeri kita kaya, tapi rakyat kita miskin. Inginkah kita terus seperti itu?
Arab Saudi, Iran, Qatar, Kuwait, Malaysia yang lebih independen dari Indonesia kenyataannya lebih makmur daripada Indonesia.
Sebetulnya dominasi Yahudi AS di Indonesia sudah sangat kental.
Cuma umat Islam saja banyak yang tidak sadar atau tidak tahu.
Dari link2 di bawah, ternyata perusahaan2 migas asing seperti Exxon Mobil, Chevron, Conoco, Amoco, BP, Arco, dsb merupakan pecahan dari Standard Oil yang dimiliki oleh Rockefeller. Rockefeller ini ditengarai sebagai Yahudi dan pemikirannya sejalan dengan Zionis. Perusahaan2 “Yahudi AS” (jika berita link di bawah benar) menguasai 90% migas di Indonesia.
Freeport di mana mantan Menlu AS Henry Kissinger menguras emas, perak, dan tembaga Papua mendapatkan puluhan trilyun (dan mungkin sebetulnya ratusan trilyun) per tahun dari kekayaan alam Indonesia. Hebatnya sekali, untuk mendapat 10% saham perusahaan tsb Indonesia harus bayar mahal. Padahal mereka mendapatkan tanah milyaran meter per segi berikut emas, tembaga, perak secara “Gratis” dari Indonesia.
Negara-negara lain seperti Malaysia, Arab Saudi, Qatar, Kuwait, Venezuela, Iran, Norwegia, dsb cukup waras untuk menguasai kekayaan alam mereka lewat BUMNnya sehingga rakyat mereka makmur sejahtera.
Pimpinan pertama IMF Camille Gutt, seorang Yahudi. Begitu pula dengan pimpinan IMF sekarang (2010), Dominique Strauss-Kahn.
Pimpinan pertama Bank Dunia Eugene Meyer dan juga kebanyakan pimpinan WB serta yang sekarang (Robert P Zoellick) adalah Yahudi.
Dengan menguasai hak mencetak kertas jadi uang, mereka paksa dunia menjual BUMN2 dan kekayaan alam yang dikelola untuk mereka kuasai melalui program PRIVATISASI. Hendaknya ummat Islam serta tokoh-tokoh Islam menyadari hal ini. Jika tidak, kekayaan alam dan ekonomi ummat Islam berpindah dari ummat Islam ke tangan Zionis Yahudi.
Pimpinan pertama Bank Dunia Eugene Meyer dan juga kebanyakan pimpinan WB serta yang sekarang (Robert P Zoellick) adalah Yahudi.
Dengan menguasai hak mencetak kertas jadi uang, mereka paksa dunia menjual BUMN2 dan kekayaan alam yang dikelola untuk mereka kuasai melalui program PRIVATISASI. Hendaknya ummat Islam serta tokoh-tokoh Islam menyadari hal ini. Jika tidak, kekayaan alam dan ekonomi ummat Islam berpindah dari ummat Islam ke tangan Zionis Yahudi.
Perusahaan rokok Phillips Morris (pemegang rokok Marlboro dan Sampoerna) juga mengeruk ratusan trilyun rupiah dari rakyat Indonesia.
Freeport Mc Moran juga ternyata satu perusahaan Yahudi yang mengeruk emas, perak, dan tembaga di Papua. Henry Kissinger, mantan Menlu AS, yang merupakan salah satu Direkturnya. Diperkirakan dari gunung Grassberg saja, Freeport bisa mendapatkan US$ 50 milyar (Rp 500 trilyun!). Perusahaan pertambangan lainnya adalah Rio Tinto, BHP Billiton, dsb.
Dari link di bawah saya lihat ummat Kristen ada yang menyadari bahwa Yahudi dengan kekuatan bisnisnya menghancurkan perusahaan2 Kristen.
Saya pelajari sekilas Presiden Bank Dunia, ternyata (apakah kebetulan?) mayoritas Yahudi semua dari Presiden pertama Eugene Meyer, hingga presiden2 terakhir seperti: Lewis T. Preston, James Wolfensohn, Paul Wolfowitz, Robert Zoellick.
Ada pun John J McCloy dan Robert McNamara meski bukan Yahudi namun sangat dekat dengan Zionis Yahudi. Bahkan McNamara-lah yang menjerumuskan AS ke dalam perang Vietnam. Beberapa dari Presiden Bank Dunia tersebut terlibat aktif di bidang politik. Paul Wolfowitz sebagai contoh adalah zionis Yahudi ekstrim yang menjerumuskan AS ke dalam perang Iraq.
http://en.wikipedia.org/wiki/World_Bank_Group
President Bank Dunia:
* Eugene Meyer (June 1946–December 1946) – Yahudi
* John J. McCloy (March 1947–June 1949)
* Eugene R. Black, Sr. (1949–1963) – Yahudi
* George D. Woods (January 1963–March 1968) – Yahudi
* Robert McNamara (April 1968–June 1981)
* Alden W. Clausen (July 1981–June 1986) – Yahudi
* Barber Conable (July 1986–August 1991) – Yahudi
* Lewis T. Preston (September 1991–May 1995) – Yahudi
* James Wolfensohn (May 1995–June 2005) – Yahudi
* Paul Wolfowitz (1 June 2005–June 2007) – Yahudi
* Robert Zoellick (1 July 2007–Present) – Yahudi
Bahkan ternyata pimpinan pertama IMF, Camille Gutt, ternyata seorang Yahudi. Begitu pula dengan Managing Director IMF yang sekarang (2010), Dominique Strauss-Kahn.
Ternyata keluarga Rothschild menguasai Bank Sentral Inggris sementara Bank Sentral AS, Federal Reserve Bank, dikuasai oleh keluarga Rothschild dan Rockefeller. Dengan menguasai Bank Sentral Inggris dan AS, mereka menguasai uang dunia.
Dengan jumawa Amschel Rothschild berkata di Frankfurt, “Let me issue and control a nation’s money, and I care not who writes the laws.” “Biarkan saya mengeluarkan dan mengawasi uang satu negara, dan saya tidak akan peduli siapa yang menulis hukumnya.”
Bahkan Bank Sentral Indonesia, BI, sekarang diswastanisasi sehingga lepas dari pemerintah berdaulat hasil pilihan rakyat. BI “bekerjasama” dengan lembaga keuangan dunia seperti IMF dan World Bank yang jelas-jelas dikuasai Yahudi. Jadi pemerintah pilihan rakyat sudah tidak berdaulat lagi terhadap BI, sementara Yahudi melalui IMF dan World Bank serta Perbankan dan Sekuritas yang mereka miliki justru punya pengaruh terhadap BI.
Dari tulisan di bawah, kaum Yahudi dari keluarga Rostchild mengenalkan Fiat Money pada tahun 1971. Uang kertas yang tidak didukung cadangan emas/perak. Sebelumnya, uang AS selalu diback-up dengan emas/perak (credit money) sehingga nilainya jelas.
Dengan dihapusnya dukungan emas, maka nilai Dollar AS tergantung pada “Pelaku Pasar Uang.” Nilai uang berubah-rubah setiap hari. Agar nilai uang kertas “stabil” para pemerintah melalui Bank Sentral mengeluarkan bunga seperti “Fed’s rate” atau SBI misalnya 7,5% per tahun. Jadi seandainya kaum Yahudi tersebut mengumpulkan uang Rp 1000 trilyun melalui Bank atau Sekuritas yang mereka miliki, maka mereka dapat Rp 75 trilyun dari hasil bunga/riba tersebut.
Krisis Moneter di tahun 1998 yang menyebabkan nilai rupiah jatuh dari Rp 2.400/1 US$ ke Rp 16.700/1 US$ hanya dalam beberapa bulan oleh spekulan valas Yahudi dengan George Soros menunjukkan pengaruh kuat kaum Yahudi di Indonesia. Bahkan saat ini George Soros bertemu dengan Wapres Boediono yang dulu menjabat sebagai Direktur BI di era Soeharto. Jatuhnya mata uang Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, dan Korsel menunjukkan bahwa di negara tersebut juga dipengaruhi kekuatan Yahudi Soros cs. Perubahan kebijakan nilai tukar dari fixed rate (rupiah dipatok tetap terhadap dollar) menjadi floating rate menjadi peluang bagi Soros cs untuk berspekulasi dengan valas. Nilai rupiah jadi berubah-rubah setiap hari tergantung nilai yang diberikan oleh Soros cs.
Pasar Saham/Bursa Saham juga memungkinkan orang-orang Yahudi yang bergerak di bidang Sekuritas / investment manager untuk membeli saham-saham BUMN yang diprivatisasi.
Mungkin ada yang berkata ini Teori Konspirasi/Paranoid. Tapi beberapa link seperti Wikipedia, menurut saya cukup valid.
Jika anda mencintai Islam, mohon sebarkan informasi ini ke yang lain atau dimuat di blog anda
.
.
Selasa, 18 Oktober 2011
pengetahuan bahan: mortar
A. PENDAHULUAN
a.1. Latar Belakang
Pengertian mortar adalah
bahan yang digunakan untuk konstruksi bangungan yang terdiri dari campuran
antara semen dan agregat halus. Campuran antara semen dan agregat ini
menggunakan perabandingan tertentu sehingga daya tahan mortal terhadap tekanan
maupun tarikan akan semakin tinggi atau maksimal.
Penggunaan mortar
sendiri memiliki keunggulan sebagai berikut :
a.
Konsistensi Karena diproduksi masal dan juga dengan alat modern dan oleh pabrikan,
maka konsistensi bahan bakunya cukup seragam. Kita tidak perlu pusing lagi akan
stabilitasnya.
b.
Mudah Jelas, tinggal tambah air, langsung pakai.
c.
Adanya additif yang sesuai akan memberikan sifat bahan yang lebih baik
dibanding hanya dengan menggunakan campuran semen biasa. Terkadang dengan
aplikasi semen biasa bisa menyebabkan beberapa problem, antara lain lantai
terangkat, dinding pecah-pecah / retak, dan lain-lain. Penggunaan mortar yang
tepat akan bisa menghindarkan problem ini di kemudian hari. Kekurangannya
otomatis dari sisi harga, karena mortar dijual amat sangat jauh lebih mahal
daripada semen.
Semen yang
digunakan dalam pembuatan mortar ini ada 3 macam, yaitu :
1.
semen portland, yaitu semen yang digunakan dalam pekerjaan umum, seperti untuk
membangun rumah, jembatan, gedung-gedung bertingkat, dan bisa juga digunakan
untuk pengerus pada panas.
2.
semen campuran, yaitu semen yang digunakan sebagai fungsi seperti semen
portland. Misalnya semen tanah tinggi, semen pizzola, semen abu terbang.
3.
semen khusus, misalnya semen abu terbang.
Pasir juga
digunakan sebagai komponen pencampur dalam pembuatan mortar. Pasir adalah
material yang terdiri dari pelapukan batu-batuan yang bermacam-macam. Ada
banyak jenis pasir yang ada, yaitu :
a.
pasir galian, yaitu pasir yang ditambang di daerah pegunungan. Pasir ini
mempunyai ciri bentuknya yang tajam dan baik dan baik digunakan untuk beton.
b.
Pasir sungai, yaitu pasir yang ditambang di sungai dan bentuknya bulat dengan
kemilaunya yang lebih banyak.
Di Indonesia telah
diperkenalkan beberapa jenis mortar, yaitu antara lain :
1. Tile Adhesive (Perekat Keramik)Ada
vertikal (dinding) dan horizontal (lantai), dan juga ada perekat keramik baru
diatas keramik lama (tanpa membongkar keramik lama)
2. Tile GroutSebagai pengisi nat (celah)
antar keramik
3. Thin BedUntuk perekat AAC (Autoclaved
Aerated Concrete) alias bata ringan
4. Skim CoatUntuk pelapis dinding baru
a.2. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah agar mahasiswa mengetahui cara pembuatan
mortar dan perbandingan pencampuran bahan dalam pembuatan mortar.
B. TINJAUAN PUSTAKA
Bahan Pembentuk
Ferosemen/Mortar
Bahan dan cara
penulangan ferosemen dilakukan sedemikian rupa sehingga terbentuk bahan
komposit yang memberikan sifat-sifat yang berbeda dengan beton bertulang biasa.
Dari penelitian yang dilakukan sebelumnya, menunjukkan bahwa ferosemen
memiliki ketahanan terhadap beban impak yang tinggi, awet dan kedap air.
Terhadap gaya tarik, karena tulangan kawat jala yang dimiliki oleh ferosemen
lebih rapat dan merata maka didapat permukaan spesifik yang lebih besar
sehingga retak yang terjadi halus dan tersebar. Sedangkan terhadap gaya
tekan, karena yang digunakan adalah mortar dengan kekuatan tinggi maka
memberikan kekuatan tekan yang tinggi pula. Terhadap kuat lentur,
perilaku keruntuhan pada ferosemen adalah tidak menunjukkan pola keruntuhan
seketika.
Ferosemen dapat
dibentuk sebagai bidang yang tipis (kurang dari 2,5 cm/1 inchi), dengan
selimut semen mortar diatas lapisan tulangan. Struktur ferosemen yang
direncanakan akan mempunyai keuntungan dalam pembuatan produk dan akan mudah
dibentuk dalam kesatuan konstruksi. Ferosemen terbentuk dari susunan adukan
mortar dan beberapa lapisan kawat jala (wiremesh) serta dapat juga ditambahkan
tulangan sebagai rangka pembentuk. Susunan tersebut membentuk suatu bahan
kompositBahan pengikat atau matrik dalam ferosemen dikenal sebagai adukan semen
atau biasa disebut mortar, yang umumnya terdiri dari semen dan pasir silika
biasa. Menurut Naaman et. al. (2001) semen yang digunakan sebagai bahan
pembuatan ferosemen harus terbebas dari lumpur dan benda asing lain serta ditempatkan
dalam kondisi kering selama jangka waktu yang pendek. Pasir menempati 70%
sampai dengan 95% dari volume mortar, oleh sebab itu penggunaan agregat untuk
ferosemen haruslah dengan mutu yang baik agar didapat mutu mortar yang
baik pula.
Pasir yang digunakan
harus kuat dan dapat menghasilkan adukan yang baik dengan
perbandingan air
semen minimum untuk mencapai penetrasi yang baik ke dalam anyaman kawat
jala. Umumnya yang digunakan adalah pasir alam yang terdiri dari silika,
batuan basalt atau koral halus. Penggunaan/pemilihan pasir haruslah
berhati-hati, karena pasir yang jelek dapat rusak akibat abrasi dan reaksi
kimia bahkan pasir yang porous dapat menyebabkan kelembaban masuk ke dalam
penampang yang tipis, sehingga mempengaruhi ketahanan dan bentuk struktur
ferosemen. Selain itu, pasir yang digunakan harus bersih dan bebas dari
bahan-bahan organik dan relatif bebas dari lempung dan lanau.
Tulangan baja yang
digunakan berfungsi sebagai rangka untuk memperoleh bentuk
yang diinginkan dan
sebagai tempat untuk memasang kawat anyam jala dan tulangan baja tersebut tidak
berfungsi sebagai tulangan struktur tetapi berfungsi sebagai pembentuk
konstruksi. Ukuran tulangan baja bervariasi antara 0,165 in (4,20 mm) sampai
0,375 in (9,5 mm) untuk diameternya.
C. METODOLOGI
c.1. Tempat dan Waktu
Praktikum ini dilaksanakan di laboratorium pasca panen jurusan teknologi
pertanian pada pukul 10.00 WIB.
c.2. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah :
1.
gelas
ukur
7.
semen
2.
tabung
reaksi
8.
pasir
3.
kain
putih
9.
air
4.
palu
5.
cetakan es
6. aluminium foil
c.3. cara kerja
a. percobaan 1
kadar air
1.
bahan mortar yang telah kering angina diberikan tanda agar tidak tertukar waktu
pengujian (nama sample dan nama kelompok)
2.
bahan mortar ditimbang dengan timbangan manual, dan dicatat beratnya
3.
siapkan oven dengan suhu konstan 1050C
a.
hidupkan oven
b.
pastikan pintu oven tertutup rapat
c.
buka/ geser tombol untuk aliran fresh air
(agar angin dapat masuk ke dalam oven)
d.
putar tombol suhu ke arah 105oC
e.
tunggu suhu oven konstan 105oC
f.
tutup tombol fresh air (agar udara
tetap konstan di dalam oven)
g.
masukkan bahan mortar ke dalam oven
h.
putar timer menjadi 24 jam
4.
setelah dikeringkan dengan oven selama 24 jam, masukkan ke dalam desikator agar
tidak ada air di dalam bahan
5.
timbang bahan mortar
b. pecobaan 2 berat
jenis mortar
1.
masukkan mortar ke dalam kain putih yang telah dipersiapkan
2.
hancurkan bahan mortar sampai halus dengan menggunakan palu
3.
kemudian dilanjutkan lagi penghalusan dengan menggunakan tumbukan dari porselin
hingga menjadi debu
4.
timbang semuanya dengan timbangan manual dan dicatat
5.
timbang bahan morta sekitar 50 gram
6.
buat skala pada tabung reaksi tiap 0,1 ml
7.
masukkkan bahan mortar dalam tabung reaksi sampai sekitar 3 ml
8.
kemudian siapakan air sebanyak 3 ml dengan gelas ukur
9.
masukkan ke dalam tabung reaksi yang telah diisi dengan bahan mortar halus tadi
10.
setelah dijumlahkan antara volume bahan mortar dan volume air,maka seharusnya
jumlahnya 6 ml
F. DAFTAR PUSTAKA
Adajar,J.C.,
Hogue,T., and Jordan, C. 2006. Ferrocement for Hurricane Prone State of
Florida. Paper on” Structural Fault+Repair-2006” Conference. Edinbourg-cotland UK.
June 13-15.
Committee 549.
1993. State-of-the-Art Report on Ferrocement. American Concrete Institute
(ACI) 549R-93.
Djausal, A.,
Sukardi, S., Alami, F., and Helmi, M. 2001. “Ferrocement in Indonesia: It’s
Aplication and potentials”. Journal of Ferrocement . IFIC Bangkok, Vol. 31 No.4
, October. pp 311-318
El Debs, M.K.,
Machado, E.F. Jr., Hanai, J.B. and Takeya,T. 1998. Ferrocement Sandwich Walls :
Research Projects By The Sao Carlos Group (Brazil). Proceeding of the Sixth
International Symposium on Ferrocement. University of Michigan, Michigan, USA.
June. pp. 493 – 506.
Langganan:
Postingan (Atom)